GAME PEER

Minggu, 13 Mei 2012

Mari Merawat Generasi Emas

Mei 13th, 2012

Hari pendidikan telah kita peringati tanggal 2 Mei kemarin. Namun, ada yang berbeda pada peringatan hari pendidikan kali ini, yaitu, pemerintah menjadikannya momentum untuk mencetak generasi emas guna menyongsong seabad kemerdekaan negara ini pada tahun 2045 mendatang.
Sebagaimana dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam rentang tahun 2010 – 2035, Indonesia mendapatkan berkah demografi. Pada tahun 2010 penduduk Indonesia dalam rentang usia 0-9 tahun mencapai 45.9 juta, sementara usia 11-19 tahun mencapai 43.55 juta. Artinya, dalam rentang tahun 2010-2035 jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif sangat melimpah. Merekalah yang bakal menjadi generasi penerus bangsa ini, menjadi pemimpin. Dan ini, menjadi berkah tersendiri bagi negara ini. Lalu, apakah yang harus dilakukan? Bagaimana kita bisa memetik manfaat dari berkah demografi ini?
Satu hal yang tak bisa ditawar-tawar adalah pendidikan. Kita meyakini bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang tak ternilai. Dan, Kemendibud mengatakan bahwa pendidikan bagi generasi emas ini harus dimulai dari level paling bawah, yaitu PAUD. Anak-anak usia dini sudah harus mulai merasakan bangku pendidikan entah dalam bentuk kelompok belajar atau taman kanak-kanak. Selain itu dikatakan pula bahwa proses penyemaian generasi emas ini akan dibarengi dengan dibukanya akses seluas-luasnya kepada anak-anak untuk masuk sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Langkah ini akan dibarengi dengan perbaikan sekolah-sekolah rusak sehingga jumlah sekolah mampu menampung jumlah siswa yang begitu membludak.
Pastinya, rencana ini bukan sebuah rencana jangka pendek yang pagi ditanam sore dipanen. Pendidikan adalah sebuah proses panjang. Namun, kita tetap berharap bahwa rencana ini bukan hanya dilontarkan dalam rangkan menyambut momentum hari pendidikan nasional, namun sebuah rencana yang benar-benar digarap secara serius. Maklum, negara ini masih saja dihinggapi dengan penyakit indah di kata merana di realita. Seringkali, rencana tak sejalan dengan kenyataannya.
Butuh lebih dari sentuhan sekolah
Menyemai generasi emas ibarat menabur benih tanaman. Jika ingin memperoleh hasil panen yang maksimal, setiap hari kita harus rutin menyiraminya. Kita pun tak boleh luput untuk membersihkannya dari gangguan rumput-rumput yang tumbuh disekitarnya. Jika perlu, kita pun harus memberikan pupuk secara rutin sehingga tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik. Begitupun dengan proses merawat generasi emas yang kita gadang-gadang akan menjadi calon pemimpin negara ini pada masa depan nanti.
Pendidikan memang menjadi salah satu kunci yang tak boleh ditawar-tawar. Meski begitu, kita juga harus aktif membersihkan adanya potensi-potensi gangguan dari pihak luar, misalnya saja media televisi. Bukan rahasia lagi bahwa masih banyak program-program layar televisi kita yang tak layak konsumsi bagi anak-anak. Tayangan-tayangan kekerasan masih sering kita temukan. Begitu juga dengan film-film yang hanya menampilkan contoh  budaya hura-hura, konsumtif, dan hedonis. Anak-anak adalah konsumen tayangan televisi paling aktif. Jika setiap hari mereka dijejali dengan tayangan-tayangan seperti itu, bukan tidak mungkin nilai itu akan melekat dan berkembang menjadi nilai hidup mereka, yang ujung-ujungnya akan menjadikan mereka sebagai sosok yang konsumtif, hedonis, opportunis. Maukah kita mendapat pemimpin yang seperti ini?
Yang tak kalah penting lagi pastinya adalah contoh pola kepemimpinan hari ini. Generasi emas kita saat ini sedang dalam proses belajar, mengamati, dan berfikir, terhadap segala apa yang terjadi disekitar mereka. Dan, kepemimpinan hari ini bukan tidak mungkin menjadi salah satu objek sasarannya. Artinya, realitas kepemimpinan hari ini bukan tidak mungkin akan terekam dan menjadi karakter kepemimpinan di masa yang akan datang.
Bangku sekolah adalah tempat dimana anak-anak banyak menerima teori, sementara lingkungan luar sekolah adalah realita dimana teori itu terejawantahkan. Artinya, ideal-ideal teori yang diterima lewat pendidikan sekolah harusnya berjalan beriringan dengan fakta realitas. Jika tidak, akan terjadi perang batin tarik ulur antara teori dan realita. Dan, sebagaimana kita lihat, realita selalu menjadi pemenangnya. Artinya, butuh lebih dari sentuhan bangku sekolah untuk menyemai generasi (yang benar-benar) emas. Berkah demografi ini harus benar-benar kita rawat secara baik agar tak menjadi bencana demografi.

Kamis, 03 Mei 2012

Hati-2 "ZINA"

Apabila Zina Sudah Bermerajalela, Azab Allah Akan Menimpa

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/Bataku/pergaulan-bebas.jpg&h=235&w=355&zc=1

Bumi Indonesia makin subur dengan aksi mesum. Pasca beredarnya video seks mirip Ariel "Peterpan" dengan artis Luna Maya, lalu disusul dengan hadirnya video serupa dengan lakon pria yang masih mirip Ariel "Peterpan" dengan Cut Tari menjadikan Indonesia lebih dikenal dunia. Bukan dikenal dengan luhurnya akhlak dan tinginya budi pekerti, tapi dikenal dengan aksi mesum anak bangsanya. Bahkan kepopularan Indonesia sebagai negara korup, dalam beberapa hari ini tergerus dengan sematan baru sebagai negara mesum. Kita juga tidak tahu, lebih baik mana sematan negara korup apa negara mesum?
Beredarnya video porno tersebut seolah mengirim pesan untuk kita, sudah sedemikian bejatnya moral anak bangsa. Nilai-nilai moral dan agama terpinggirkan. Nafsu syahwat dipertuhankan. Kehidupan layaknya binatang menjadi kegemaran. Dan kerusakan ini semakin menjadi karena media ikut mempublikasikannya. Berita esek-esek memang menjadi idola manusia negeri ini, banyak penggemarnya. Sehingga tepat kalau media menjadikannya sebagai komoditi untuk meningkatkan rating dan oplah, karena umumnya media massa kita hanya berpikir dari sisi pragmatisme bisnis semata.
Pemberitaan media yang massif menyebabkan banyak kalangan, terutama remaja semakin tergoda untuk mengoleksi video tersebut. Akibatnya, semakin banyaklah orang ikut menyaksikan tontonan haram itu. Tentu dikhawatirkan, perilaku serupa makin merajalela.
Dalam Islam aib seseorang harus ditutupi. Terlebih jika aib itu bisa menyebabkan orang semakin berdosa dan menambah kerusakan, tentu kewajiban untuk menutupinya jauh lebih ditekankan. Tapi, inilah kehidupan yang jauh dari norma Islam, mengumbar aib menjadi kegemaran sebagimana kegemaran mengumbar aurat.
Zina dalam pandangan Islam
Sesungguhnya zina dalam Islam adalah perbuatan yang haram dan hina. Bahkan, seburuk-buruk orang Islam pun pasti tahu haramnya zina. Namun, ternyata perbuatan zina dan perantara-perantaranya begitu bebasnya di negeri kita. Inilah zaman yang kejahatan zina tersebar di mana-mana dan terlihat sebagai sesuatu yang biasa.
Sering kita dengar seorang gadis yang hamil di luar nikah. Kita akan melihat ayah dan ibunya sangat bingung dan malu. Namun, ketika ada seseorang yang siap menikahinya maka hilanglah kesedihan dan rasa malu. Bahkan tidak sedikit yang memeriahkan pesta pernikahan anaknya yang sudah mulai terlihat besar perutnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebingungan dan rasa malu mereka bukan karena anak gadisnya melakukan zina, tapi karena anaknya hamil dan belum ada yang siap menjadi ayahnya. Na'udzu billah min dzalik.
Tersebarnya zina terdukung oleh faktor pemicunya yang tersebar bebas di masyarakat seperti majalah dan film parno, televisi dengan tayangan yang vulgar, sinetron umbar aurat, film layar lebar yang sering dengan bumbu aksi mesum, dan pertunjukan pornoaksi dalam bungkus hiburan musik, dan media-media lainnya.
Tersebarnya zina dengan seperangkat sarana-sarana pendukungnya merupakan isyarat bahwa hancurnya dunia ini memang semakin dekat, tinggal menunggu waktu. Karenanya negeri ini harus segera bertaubat, jika tidak, ditakutkan adzab Allah akan segera datang.
Sesungguhnya sunnah Allah berlaku pada makhluk-Nya, di mana jika perzinaan merajalela, maka Allah murka kepada mereka. Jika kemurkaan Allah terus berlangsung, maka Dia akan menurunkan adzab-Nya ke bumi. Abdullah bin Mas’ud, berkata, "Tidaklah muncul perzinaan di sebuah negeri, kecuali Allah mengumumkan kehancurannya."
Jika perzinaan merajalela, maka Allah murka kepada mereka. Jika kemurkaan Allah terus berlangsung, maka Dia akan menurunkan adzab-Nya ke bumi.
Dalam hadist Aisyah radliyallahu 'anha, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah pada shalat gerhana matahari beliau bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
"Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”
Kemudian, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, apakah hal ini sudah aku sampaikan?.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada rahasia yang penting dibalik penyebutan dosa besar zina pada saat shalat kusuf (shalat gerhana). Yaitu maraknya perzinaan adalah tanda-tanda hancurnya dunia dan hari kiamat, dan gerhana adalah satu satu bentuk tanda kiamat.
Maraknya perzinaan adalah tanda-tanda hancurnya dunia dan hari kiamat, dan gerhana adalah satu satu bentuk tanda kiamat.
Zina dianggap Halal
Pada akhir zaman banyak orang tidak malu-malu lagi melakukan zina. Zina tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang hina dan memalukan. Hal ini dikarenakan banyaknya tontonan zina dan banyaknya orang yang berzina. Sehingga ketika seorang laki-laki ketahuan berzina terasa tidak ada beban asal bertanggungjawab mau menikahi wanita zinanya. Wal 'iyadl billah!
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy'ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
"Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik." (HR. Bukhari)
Makna yastahilluuna (menghalalkan), menurut Ibnul 'Arabi adalah mereka meyakininya sebagai sesuatu yang halal, sehingga mereka terus-menerus melakukannya tanpa beban, seolah-olah menikmati sesuatu yang halal. (Disarikan dari ucapan Ibnul 'arabi dari Fathul Baari: 16/61 dari Maktabah Syamilah)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, "alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini." (HR. Abu Ya'la. Al Haitsami berkata, "perawi-perawinya shahih." Lihat Majmu' Zawaid: 7/331)
Dan pada akhri zaman, setelah lenyapnya kaum muslimin, tinggallah orang yang jelek yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Diriwayatkan dari al-Nawwas radliyallahu 'anhu:
وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ
"Dan ingatlah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." (HR. Muslim)
Gambaran semacam ini sudah nampak di negeri kita, sebagaimana yang dilakukan para pelacur yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di beberapa tempat keramaian atau taman kota, dan juga yang terjadi di pinggir-pinggir pantai, tempat wisata. Tapi, jika dibandingkan di Barat mungkin belum lah separah di sana. Namun, tidak menutup kemungkinan yang di Barat pun akan terjadi di sini, sebagaimana fenomena akhir-akhir ini terjadi, sebagian orang sudah berani merekam perbuatan bejatnya bersama wanita zinanya. Maka mungkin saja, zina di jalan-jalan dapat terjadi.
Dari Abdullah bin Umar radliyallah 'anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai orang-orang bersetubuh di jalan-jalan seperti layaknya keledai.” Aku (Ibnu ‘Umar) berkata, “Apa betul ini terjadi?”. Beliau lantas menjawab, “Iya, ini sungguh akan terjadi.”
Fenomena zina di akhri zaman, boleh jadi lebih para daripada yang terjadi pada zaman jahiliyah. Orang-orang jahiliyah memandang buruk perzinahan yang dilakukan secara terang-terang. Berbeda dengan pandangan umum masyarakat modern, zina dianggap sebagai sebuah kebebasan yang diagungkan. Bahkan, orang yang melarang zina dianggap melanggar HAM.
Ibnu Abbas radliyallah 'anhuma berkata: "Mereka pada masa jahiliyah memandang zina yang lakukan dengan sembunyi-sembunyi tidaklah mengapa. Namun, mereka memandang buruk zina yang dilakukan dengan terang-terangan. Lalu Allah mengharamkan zina yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan." (Dinukil dari Fathul Baari)
Semoga mereka yang sudah terjerumus ke dalam kubangan haram segera kembali ke jalan yang benar. Meninggalkan segala bentuk keharaman dan mencari yang halal. Dan semoga Allah meneguhkan keimanan umat ini dari berbagai fitnah zaman yang menghawatirkan. Ya Allah, Tunjuki kami kepada kebenaran dan berilah kekuatan untuk mengikutinya. Dan palingkan kami dari kebatilan dan anugerahkan kami kekuatan untuk menjauhinya. Amin Ya Mujiibbas Sailiin. (PurWD/voa-islam.com)
Oleh: Badrul Tamam
http://waladi-dimalaysia.blogspot.com/2010/06/apabila-zina-sudah-bermerajalela-azab.html

Rabu, 11 April 2012

 ANTARA HAK ANAK DAN KEWAJIBAN IBU

 Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewajiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut. Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:

1. Menyusui

Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233)

Allah berfirman, yang artinya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (QS Al Ahqaf 15).

Al 'Allamah Siddiq Hasan Khan berkata,
"Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih." 2

2. Mendidiknya

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.

Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, sepertI (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan.

Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya:

2.1 Menanamkan Aqidah Yang Bersih
Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.

Allah berfirman yang artinya:
Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. (QS Muhammad: 19)

Rasulullah bersabda, yang artinya:
Dari Abul Abbas Abdullah bln Abbas, dia berkata: Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata, 'Wahai anak, Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadpanmu. Apablla engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering." 3

Dan dalam riwayat lain (Beliau berkata),
"Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Perkenalkanlah dirimu kepada Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apa apa yang (ditakdirkan) luput darimu, (maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan."
4

Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.
(Salamah Ummu Ismail)
Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 57 - 58

Apa yang terjadi esok????

KULTUM 005 - TIDAK SEORANGPUN TAHU APA YANG AKAN TERJADI BESOK

Oleh : Fadhil ZA

 
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Luqman 34)
  Ada 6 pesan singkat yang terkandung dalam surat Luqman ayat 34 ini:

1. Hanya Allahlah yang tahu , kapan terjadinya peristiwa kiamat
2. Allahlah yang mengatur dan mengendalikan turunnya hujan dari langit
3. Hanya Allah yang tahu apa yang ada dalam rahim seorang ibu
4. Tidak seorangpun tahu , apa yang akan terjadi dan dialaminya besok hari
5. Tidak seorangpun tahu kapan dan dimana ia akan wafat.
6. Hanya Allah yang Maha Mengetahui dan mengenal segala sesuatu

Tanggal 26 Desember 2004 pagi sebagian besar penduduk Aceh melaksanakan aktifitas sebagaimana yang mereka lakukan sehari hari. Belanja kepasar, menuju tempat kerja, kesekolah, bermain, kekebun, bersiap melaut, tidak seorangpun yang tahu bahwa hari itu akan terjadi Kiamat kecil yang menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang dalam sekejap mata. Pagi itu sebagian besar wilayah Aceh diguncang gempa, penduduk panik, berhamburan lari keluar rumah. Penduduk yang berada ditepi pantai heran melihat air laut tiba tiba menyusut dengan mendadak.
Tidak lama kemudian warga Banda Aceh, Meulaboh dan penduduk ditepi pantai Aceh dikejutkan dengan datangnya gelombang pasang setinggi pohon kelapa. Dengan ganas ombak besar itu menyapu apa saja yang menghadangnya, gelombang pasang terus masuk kedaratan sampai beberapa kilometer. Ratusan ribu nyawa melayang dalam waktu yang singkat. Demikianlah Allah mencontohkan kejadian Kiamat sebagaimana yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an. Kejadiannya begitu tiba-tiba, tidak seorangpun pernah menyangka peristiwa itu akan terjadi. Memisahkan ibu dari anak, ayah dengan keluarganya, menghilangkan nyawa ratusan ribu orang dalam sekejap mata. Melenyapkan semua yang ada dimuka bumi, rumah, gedung, pohon, binatang ternak, kendaraan, harta benda, semua musnah tak berbekas.
Kita tidak pernah tahu dengan pasti kapan akan turun hujan, apa yang tersembunyi dirahim seorang ibu, apa yang akan terjadi dan kita alami besok hari, kapan dan dimana kita akan wafat. Kita hanya bisa menduga-duga dan membuat prediksi atau perkiraan. Dugaan dan perkiraan kita kadang benar, kadang meleset. Hanya Allahlah yang tahu segala gala-nya. Tidak tersembunyi bagi Allah sesuatu dilangit dan dibumi, juga yang ada didalam diri kita masing masing. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.
“Laa haulaa walaa kuwwata illa billahi” kita memang tidak punya daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Mari kita sadari kelemahan kita, jangan sombong, takabur, bangga dan takjub dengan kemampuan diri. Kita tidak berarti tanpa bimbingan dan pertolongan Allah. Bertaqwa dan tawakkallah pada-Nya. Allah akan membimbing dan menuntun orang yang bertaqwa dan ber-tawakkal padaNya. Sebagaimana firman Allah dalam surat A Thalaq ayat 2-3:
“……. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.(2) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(3) ”
(At Thalaq 2-3)
Kita tidak pernah tahu dengan pasti apa yang akan terjadi beberapa jam lagi dihadapan kita, apa yang akan terjadi besok terhadap diri kita . Hanya Allah yang tahu pasti apa yang akan terjadi terhadap diri kita besok, kita hanya bisa berusaha, berharap dan berserah diri pada keputusan-Nya. Allah tidak akan pernah menyia- nyiakan orang yang selalu ingat dan berbakti pada-Nya. Dialah pemimpin dan pelindung orang yang ber-Iman dan bertakwa.

disunting dari : http://www.fadhilza.com/2008/12/tadabbur/kultum-005-tidak-seorangpun-tahu-apa-yang-akan-terjadi-besok.html

Ancaman Kekerasan terhadap Anak

Ancaman Kekerasan Terhadap Anak dan Persangkaan Palsu Salah Satu Pihak Terhadap Pihak Lainnya Sebagai Upaya Menjauhkan Anak Terhadap Salah Satu Pihak


Anak dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dalam kasus perceraian tidak dapat terjadi karena adanya alasan yang jelas, maka seringkali salah satu pihak menyudutkan pihak lainnya agar dapat bercerai dan mendapatkan hak asuh terhadap anak
Ada beberapa alasan atau alasan-alasan untuk dapat bercerai berdasarkan Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, yakni:
  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  6. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba menelaah ketika salah satu pihak mengancam anak untuk melakukan kekerasan terhadapnya seperti memukulnya jika tidak mengatakan sesuai keinginannya, maka salah satu pihak orang tua itu akan dapat diancam dengan Pasal 80 ayat (1) Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa,”Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan, terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6(enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).” Terlebih jika orang tua atau salah satu orang tua yang melakukan salah satu dari ayat (1) ini, maka berdasarkan Pasal 80 ayat (4) Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa,”Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),...apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.
Dengan melakukan ancaman kekerasan terhadap anak agar pihak yang lain tidak dapat bertemu dengan sang anak, terlebih dengan persangkaan palsu oleh salah satu pihak tersebut menggunakan keterangan anak yang telah diancam kekerasan terlebih dahulu, maka Pasal 318 ayat (1) bahwa,”Barang siapa dengan sesuatu perbuatan sengaja menimbulkan secara palsu persangkaan terhadap seseorang bahwa dia melakukan suatu perbuatan pidana, diancam karena menimbulkan persangkaan palsu, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”Loura Hadjaloka"

disunting dari : http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/248-ancaman-kekerasan-terhadap-anak-dan-persangkaan-palsu-salah-satu-pihak-terhadap-pihak-lainnya-sebagai-upaya-menjauhkan-anak-terhadap-salah-satu-pihak-.html

Senin, 09 April 2012

Bahaya Fitnah

Bahaya Fitnah

Post by Sepintas lalu on Mon Dec 22, 2008 11:48 am
Bahaya Fitnah

(Jumat, 03 September 2004) - Ditulis oleh Alwi Shahab

Berbicara tentang kejelekan orang lain dan mencelanya disebut menggunjing jika benar, dan disebut fitnah jika tidak benar. Tentu saja, tidak ada seorang manusia pun yang bebas dari dosa. Orang bijak mengatakan, manusia itu tidak lepas dari kesalahan dan lupa. Dengan begitu, manusia itu memang tidak sempurna, ia bisa berbuat khilaf.
Manusia pada umumnya hidup di balik tabir, yang oleh Tuhan --dengan kebijakan-Nya-- digunakan untuk menutupi perbuatan-perbuatannya. Kalau saja tabir Ilahi ini diangkat untuk memperlihatkan semua kesalahan dan kekeliruan kita, niscaya semua orang akan lari dengan yang lain dengan rasa jijik dan masyarakat akan runtuh hingga ke dasardasarnya.
Itulah sebabnya mengapa Allah melarang kita membicarakan kejelekan orang lain. Maksudnya agar kita
terlindung dari pembicaraan orang lain mengenai diri kita.

Dengan wujud dan kelemahan manusia seperti itulah, agama kemudian melarang kita untuk saling menggunjing dan, apalagi, menfitnah. Banyak ayat suci Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang mencela keras segala bentuk fitnah, yang justru akhir-akhir ini makin merebak di tanah air. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.'' (Al-Nahl: 105).

Tidak dapat dimungkiri bahwa dampak dari fitnah bukan saja terhadap mereka yang difitnah, tapi juga terhadap masyarakat luas. Di tanah air kita sendiri seringkali terjadi keributan dan kerusuhan yang disebabkan oleh fitnah dan adu domba. Begitu besarnya bahaya dan dosa fitnah, hingga oleh Islam dikategorikannya sebagai perbuatan lebih kejam dari pembunuhan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW lebih mempertegasnya lagi dengan sabdanya, ''Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).'' (HR Abu Dawud dan At-Thurmudzi).
Menurut Islam, perilaku manusia dan tindakannya di dalam kehidupan merupakan salah satu dari fenomena akidahnya.
Untuk itu kita diminta untuk berpegang teguh pada akidah yang telah ditetapkan dan digariskan agama. Para ulama mengatakan, kalau akidah kita baik, maka akan baik dan lurus pula perilaku kita. Dan, apabila akidah kita rusak, akan rusak pula perilaku kita. Oleh karena itu, maka akidah tauhid dan iman adalah penting dan dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan pribadinya dan mewujudkan kemanusiaannya.

Adalah ajakan kepada akidah ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rasulullah agar ia menjadi batu pertama dalam bangunan umat Islam. Hal ini, karena kekokohan akidah ini di dalam jiwa manusia akan mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan, keluruhan, kesucian, dan kemuliaan.
Apabila aqidah ini telah berkuasa, maka ia akan melahirkan keutamaan-keutamaan manusia yang tinggi seperti keberanian, kedermawanan, kebajikan, ketenteraman, dan pengorbanan. Orang yang berpegang pada aqidah tidak akan mau melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada fitnah. Karena dengan aqidahnya itu, ia tidak ingin tergelincir pada jurang kedosaan yang dikutuk agama. Wallahu a'lam.
disunting dari : http://bkh-2008.niceboard.org/t118-bahaya-fitnah

Kamis, 05 April 2012

Bahaya Dosa Kecil

BAHAYA DOSA KECIL



OLEH : Ramli Yusuf
Hadits dari Sahl bin Sa’ad berkata;
Bersabda Rasulullah SAW:
Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka. (Riwayat Ahmad).

Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad di atas Rasulullah menjelaskan kepada umatnya untuk berhati terhadap dosa-dosa kecil sebab dosa-dosa kecil bila sering dikerjakan akan menjadi besar juga dan akan mengkibatkan fatal bagi orang yang melakukannya.
Rasulullah mencontohkan dosa kecil itu seperti sekelompok orang yang pergi ke suatu tempat rekriasi dengan tujuan masak dan makan bersama.
Kepada setiap orang dianjurkan membawa hanya sebatang ranting kayu untuk dijadikan kayu bakar. Ternyata setelah dikumpulkan ranting-ranting itu semuanya jadilah satu tumpukan besar sehingga bisa menanak semua makanan yang mereka inginkan.
Target syaithan terkutuk yang paling utama adalah ingin mengeluarkan manusia dari iman dan menjerumuskan kedalam kekafiran. Bila hal ini tidak mampu mereka mengajak manusia untuk melakukan dosa-dosa besar, seperti berzina, membunuh, minum minuman yang memabukkan dan lain-lain.Bila ini tidak mampan syaithan mendorong dan mangajak manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil yang tidak terhitung jumlah dan ragamnya.

Sebagai contoh kita sebutkan saja misalnya melihat wanita dengan syahawat, menghabiskan waktu pada pekerjaan yang tidak bermanfaat; duduk berjam-jam di warung kopi, main batu semalam suntuk, melanggar rambu-rambu lalu lintas dan banyak lagi yang lainnya. Syaithan sangat senang bila manusia sibuk dengan dosa-dosa kecil dan selalu mengajaknya dengan caranya sendiri; tidak mengapa ini hanya dosa kecil saja asal tidak dikerjakan dosa besar.

Dosa-dosa kecil bila dikerjakan secara terus menerus maka ia akan menjadi besar dan gemuk. Menyengaja dan membiasakan diri dengan dosa-dosa kecil berarti sama dengan merencanakan untuk memulai berbuat dosa besar. Bukankah suatu dosa besar duduk berjam-jam menontong televisi di warung kopi sehingga menyia-nyiakan urusan rumah tangga. Atau main batu semalam suntuk yang ujung-ujungnya tidak sempat shalat subuh.

Bukankah meningalkan shalat itu suatu dosa besar. Pepatah lama mengatakan: Qalilan-qalilan yakunu jabalan (Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit). Allahu waliyyuttaufiq.

http://www.gemabaiturrahman.com/2011/02/bahaya-dosa-kecil.html