GAME PEER

Sabtu, 15 Desember 2012

MAKANAN SINGKONG



Es Campur Saus Tape Singkong
Bahan Kolang Kaling:
Ø  250 gr kolang kaling iris tipis
Ø  100 gr gula pasir
Ø  300 ml air
Ø  1 lbr daun pandan
Ø  5 tetes pewarna merah

Bahan Isi:
o   100 gr cincau hitam, potong kotak kecil
o   200 gr kelapa muda, keruk panjang
o   100 gr nangka matang, potong-potong
o   300 gr rumput laut, potong-potong
o   300 gr es serut
o   150 ml sirup merah
Description: Es Campur Saus Tape SingkongBahan Saus Tape Singkong:
·         250 gr tape singkong yang manis
·         800 ml santan dari 1 btr kelapa
·         100 gr gula pasir
·         2 lbr daun pandan
·         ½ sdt garam

Cara Membuat:
 1. Buat kolang-kaling merah: didihkan air, gula, daun pandan dan pewarna merah. Matikan api, masukkan kolang-kaling, diamkan sampai sirup dingin, tiriskan.
 2. Buat saus tape singkong: rebus semua bahan sampai mendidih sambil diaduk, angkat, saring dan dinginkan.
 3. Sendokkan bahan ke dalam mangkuk, tambahkan es serut.
 4. Siram dengan saus tape singkong, sendokkan sirup merah, sajikan.
Kuliner


KREATIVITAS MAKANAN DARI KETELA
Singkong, atau Pohung atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama ‘telo kaspo’ bisa dibuat bermacam jenis makanan. Sering orang tertegun melihat makanan, yang asalnya dari ketela rambat. Yang paling tradisional dan diolah apa adanya adalah telo goreng, kalau di Yogya dikenal dengan nama balok.

Ada jenis makanan lain, yang asalnya dari ketela dan dikenal dengan nama sawut. Ada juga klepon, yang biasanya dibuat dari ketan, namun bisa juga dibuat dari ketela. Lain lagi, ada nama makanan cemplon, isinya gula Jawa dan digoreng. Dibuat juga dari ketela. Ada jenis yang lain lagi, ialah cethil. Jenis makanan, sawut, klepon dan cehtil dilengkapi dengan parutan kelapa, sehingga rasanya gurih dan manis bercampur menjadi satu.

Jenis makanan yang dibuat dari ketela, ada banyak bisa ditunjuk. Namun, pada konteks ‘suguhan’ ini hanya diambil tiga jenis yang telah disebut diatas, yaitu: Sawut, Cethil dan Klepon.

Nama-nama makananya khas Jawa dan rasanya juga khas Jawa, manis dan gurih. Dua jenis rasa itu tidak terpisahkan. Setiap hidangan yang disajikan, setidaknya di rumah keluarga Jawa, dua jenis rasa itu saling mengisi dan melengkapi.

Lalu Sawut, bagaimana bentuknya?
Sawut berasal dari ketela yang diparut kemudian direbus. Untuk memberi cita rasa, seringkali sawut diberi warna, merah misalnya, atau hanya warna putih. Warna alami. Untuk memberikan rasa gurih, parutan kelapa ditorehkan pada sawut. Biasanya, kalau menikmati sawut sekaligus ‘ditemani’ minuman teh yang dikenal sebagai ‘nasgithel’ --panas, legi dan kenthel (kental)—

Maknan dari ketela yang lain, Cethil namanya. Ketela rambat ditumbuk dan direbus serta dipotong kecil-kecil. Diberi warna dan dilengkapi parutan kelapa. Rasanya hampir sama dengan sawut.

Sedang klepon, yang biasanya dibuat dari ketan. Rupanya, singkong sering juga dipakai untuk membuat klepon. Singkong yang sudah direbus dan dilembutkan, didalamnya diisi gula kelapa. Dibuat bundar seperti kelereng. Dilengkapi parutan kelapa. Manis dan gurih berbaur menjadi satu.

Jenis makanan seperti disebut diatas, sulit ditemukan di Mall-Mall atau pasar modern, tetapi mudah sekali ditemukan di pasar pasar tradisional. Pasar tradisional di Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul, ada pedagang yang menjual tiga jenis makanan dari ketela itu. Termasuk menyediakan cemplon. Tiga jenis makanan itu telah dikemas dengan plastik dan dijual Rp 1000,- satu plastik, yang isinya 5 biji. Atau kalau klepon, satu sudhi –tempat yang terbuat dari daun pisang—ada tiga buah klepon dan satu plastik ada 5 sudhi klepon.

Begitulah, makanan tradisional dari ketela itu dijual di pasar tradisional dengan harga, yang rasanya juga masih tradisional –ucapan lain dari murah. Selain pasar tradisional Pijenan, pasar tradisional yang lain, juga mudah menemukan jenis makanan yang terbuat dari ketela seperti sawut, cethil dan klepon. Selain, tentu, makanan ketela yang digoreng.

Maka, jangan tinggalkan pasar tradisional dan juga, jangan lupakan makanan tradisional dari ketela.

Ons Untoro

Resep Minuman Segar Dingin Es Kolak Aneka Kacang Ubi
Bahan membuat Minuman Dingin Es Kolak Kacang Ubi:
100 gram kacang hijau, rendam, rebus
100 gram kacang merah, rendam, rebus
100 gram kacang tanah, rebus empuk
1 buah ubi merah, potong dadu
2 gelas air
2 lembar daun pandan
150 gram gula pasir
1/2 sendok teh garam
Es batu secukupnya
100 ml santan dari  1/2 butir kelapa

Cara membuat Minuman Dingin Es Kolak Kacang Ubi:
Ubi, air, pandan masak sampai empuk » Masukkan gula dan garam. Masak lagi. Angkat. Biarkan dingin.
Siapkan mangkuk/ gelas. Isi dengan kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, ubi merah, es batu, santan. Sajikan.

Resep Membuat Camilan Praktis : Dadar Singkong
Bahan Kulit Membuat  Camilan Praktis  Dadar Singkong:
·           1 kg singkong, kupas, parut halus
·           1 sdt garam
Isi:
o   100 g udang, cincang halus
o   500 g fillet kakap, haluskan
o   100 g jamur merang
o   2 siung bawang putih
o   1 bawang bombai, iris halus
o   1/2 sdt merica
o   1/2 sdt kaldu sapi bubuk
o   1/2 sdt garam
o   1/2 sdt gula pasir
o   1 sdm minyak goreng
o   1 btg daun bawang, iris halus
o   2 btg seledri, iris halus
Pelengkap:
·         Selada keriting
·         1 sdm kecap
·         1 sdm wijen, sangrai
Cara Membuat Masakan  Camilan Praktis  Dadar Singkong:
Description: Resep Dadar SingkongMembuat kulit: Campur singkong dan garam, aduk rata, cetak setipis mungkin pada tutup panci, masak di atas air mendidih hingga bening.
Membuat isi: Tumis bawang putih dan bawang bombai hingga harum. Masukkan ikan dan udang ke dalam tumisan bumbu sampai ikan dan udang mengeras. Kemudian masukkan jamur yang telah diiris tipis. Masukkan bumbu lain dan aduk sampai airnya habis.
Ambil selembar dadar singkong lalu isi dengan adonan isi secukupnya. Lipat dadar singkong seperti amplop, beri daun selada lalu gulung. Olesi bagian atas dengan kecap lalu taburi wijen yang sudah disangrai.
Sajikan segera.

Untuk 10 porsi
 Nilai gizi per porsi:
 Energi: 216 Kkal
 Protein: 18,1 g
 Lemak: 1,3 g
 Karbohidrat: 35,6 g

Sumber : Tabloid-nakita.com

ES KRIM UBI JALAR
BAHAN :
 300 ml santan dari 1/2 butir kelapa
 2 batang kayu manis
 3 butir cengkeh
 150 g gula pasir
 1/2sdt garam
 2 lembar daun pandan, sobek dan Simpulkan
 300 g ubi jalar (warna ungu kalau ada)
 250 ml krim kocok segar (whipping cream, thick cream)
CARA MEMBUAT ES KRIM UBI JALAR :
 • Campur santan dengan kayumanis, cengkeh, gula pasir, dan garam. Tambahkan daun pandan. Masaksambil diaduk sampai mendidih. Sisihkan.
 • Kukus ubi jalar hingga lunak, haluskan selagi panas dengan disaring atau dengan penekan kentang (jangan melumatkan dengan blender). Campurkan ubi jalar pada santan, aduk rata. Saring lagi bila perlu. Beni pewarna ungu.
 • Pindahkan adonan ke dalam container plastik, atau lebih baik lagi, wadah dari stainless steel. Tutup rapat dan dinginkan dulu dalam lemari es agar adonan cukup dingin.
 • Kocok krim hingga kaku dalam mangkuk yang telah didinginkan dalam lemari es . Gunakan kecepatan sedang. Masukkan krim kocok ke dalam adonan yang telah dingin, aduk balik hingga rata.
 • Membekukan: pindahkan adonan ke dalam container plastik, atau lebih baik lagi, wadah dari stainless steel. Bekukan sampai adonan pada pinggir wadah mulai mengeras. Keluarkan, haluskan
 dengan mixer atau dalam blender. Bekukan lagi.
 • Lakukan proses ini 2-3 kali sampai es krim benar-benar membeku dan keras.
 • Penyajian: sajikan dengan whipping cream dan taburi kacang mete gepuk.

Info nutrisi per porsi
 Energi: 370,3 kalori
 Karbohidrat: 42,8 g
 Lemak: 21,8 g
 Kolesterol: 43,8 mg

Kentang Lapis Sayuran
Bahan :
o  500 gr kentang, potong-potong tebal, goreng berkulit
o  300 gr brokoli, potong-potong rebus
o  3 siung bawang putih
o  1/2 bh bawang bombay, cincang halus
o  1/2 bh paprika merah, potong dadu
o  150 gr jamur merang, potong-potong, tumis
Saus :
·      250 cc susu cair
·      100 gr keju, parut
·      3 butir telur kocok
·      1/2 sdt garam
·      1/4 sdt lada bubuk
·      1 sdm saus tomat

Cara Membuat :
Campur semua bahan saus, tata kentang goreng di pinggan tahan panas
Tutup dengan brokoli, jamur, bawang putih, bawang bombay, paprika merah. Siram saus
Letakkan pinggan di dalam loyang yang telah diisi sedikit air. Oven 170 derajat celcius, 30 menit hingga matang.
Hidangkan.


Ubi merah (sweet potato) tak layak dipandang sebagai makanan kelas dua. Karena, sekalipun murah, ubi merah banyak mengandung zat gizi dan zat antioksidan. Mark Kestin Ph.D, ketua jurusan program nutrisi di Unversitas Bastyr, Seattle, memberi saran, ”Pilihlah ubi berwarna jingga sampai merah, yang berwarna cerah. Semakin merah, semakin tinggi kandungan betakoratennya”.
 Selain kaya serat, vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan antioksidan (betakaroten), ubi merah juga mengandung asam folat dan vitamin B6 (piridoksin)Kedua unsur vitamin B ini membantu meningkatkan fungsi otak dan mempertajam daya ingat.

 Untuk 4 porsi
 Bahan:
 (waktu persiapan: 10 menit)
 600 g ubi merah/jingga, potong dadu 2 cm
 2 sdt minyak zaitun
 2 sdm madu
 1 sdt adas manis
 1/2 sdt kayumanis bubuk
 2 sdm yogurt tawar/rasa vanilla

Cara membuat:
 (waktu memanggang: 30 menit)
Panaskan oven dan siapkan loyang tahan panas. Sisihkan.
Campur ubi merah bersama minyak zaitun, madu, adas manis, dan kayumanis bubuk. Aduk rata.
Taruh ubi beserta bumbu perendam ke dalam loyang. Panggang dalam oven panas selama 30 menit sampai ubi matang.
Sajikan hangat bersama yogurt.

TIP DAPUR :
Simpan ubi dalam ruangan yang kering dan terang. Jika disimpan dalam ruangan yang lembap, ubi lebih cepat bertunas.
Setelah dikupas dan dipotong-potong, rendam ubi dalam air agar tidak cepat berubah warna, menjadi kecokelatan.

 TIP SEHAT:
Ubi merah aman dikonsumsi oleh pengidap diabetes karena kandungan karbohidrat kompleks dan seratnya tinggi. Mengonsumsi ubi merah dapat membantu menurunkan kadar gula darah, dan mengontrol berat badan.
Untuk memperoleh manfaat yang maksimal, sebaiknya ubi merah dimasak dengan minyak sehat, misalnya minyak zaitun, agar lebih mudah diserap tubuh.

Siswi SMA Kediri Temukan Susu dari Ketela
10 Maret 2011 agusisdiyanto Tinggalkan Komentar Go to comments

Melalui serangkaian uji coba, tiga siswi SMAN 2 Kota Kediri ini berhasil menemukan minuman susu sari ketela dan beras ketela. Makanan dan minuman yang terbuat dari bahan dasar ketela pohon itu membuka peluang bisnis baru. Satu lagi trobosan penganekaragaman produk berbahan baku singkong selain tapioka yg lebih dahulu populer.

Susu sari ketela memang masih terasa asing di telinga masyarakat. Sampai sekarang masih memang belum ada yang membuat susu dari bahan dasar ketela pohon.

Tiga cewek berprestasi itu masing-masing Mayang Anglingsari Putri, Anis Suraida Safitri, dan Nurahida Laili saat ini tercatat sebagai siswi kelas XII IPA 5. Hasil karya mereka berhasil memenangkan juara I lomba Bisnis Plan Tingkat SMA yang digelar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada awal Desember 2010 lalu.

Ide dasar membuat susu dan beras sari ketela bermula keinginan ketiga pelajar itu untuk mengikuti lomba di FEUI. Setelah berdiskusi, ketiganya kemudian menciptakan minuman susu dan beras dari bahan ketela. “Kalau minuman susu sari kedelai sudah banyak dibuat masyarakat. Sedangkan susu sari ketela belum ada yang membuat,” ungkap Anis.

Ketiga cewek itu kemudian patungan melakukan serangkaian uji coba untuk mewujudkan obsesinya. Pada uji coba pertama ternyata menemui kegagalan. Namun, pada uji coba kedua sudah mulai ada tanda-tanda keberhasilan. “Kami gagal karena tidak sabar. Masalahnya, untuk membuat susu harus ada proses pengendapan yang butuh waktu paling cepat sekitar 30 menit,” jelasnya.

Setelah upayanya berhasil, ketiga pelajar itu juga harus berkonsultasi dengan guru biologi dan kimia untuk menyempurnakan hasil temuannya. Konsultasi dengan guru kimia terkait dengan upaya pengawetan susu sari ketela supaya lebih tahan lama.

Dari hasil konsultasi, akhirnya dipilih tidak perlu diberi campuran bahan pengawet makanan. Apalagi susu hasil ciptaannya ternyata dapat bertahan selama dua hari.

“Kalau ada pengawetnya nanti ada campuran bahan kimianya,” ungkapnya.

artikel yg lain :

Cake Singkong
Untuk: 12 potong
1 potong: 201 kalori
Bahan membuat cake singkong
- 4 btr telur ayam
- 125 gr terigu
- 200 ml santan
- 150 gr singkong parut
- 100 gr kelapa parut
- ½ sdt baking powder
- ¼ sdt vanili
- 150 gr margarin dicairkan
- 100 gr gula pasir

Cara Membuat cake singkong
1. Campur tepung terigu dengan baking powder dan vanili, sisihkan.
2. Kocok telur dan gula dengan mikser kecepatan tinggi sampai gula hancur dan kental, kurangi kecepatan mikser, masukkan campuran tepung sedikit demi sedikit hingga habis.
3. Masukkan singkong dan kelapa parut, aduk rata.
4. Masukkan margarin dan santan, mikser dengan kecepatan tinggi selama 20 detik, angkat miksernya.
5. Ambil loyang persegi panjang yang sudah diolesi margarin, tuang adonan, panggang di oven selama ± 1 ½ jam, angkat.
6. Hidangkan dengan dipotong-potong.

Hidangan dari Singkong
Singkong merupakan pangan lokal yang telah lama diminati oleh masyarakat. Pada zaman perang, saat masuknya Jepang ke Indonesia, beras sangat langka dan sulit didapat, tetapi masyarakat tidak kurang akal. Kita semua memanfaatkan singkong sebagai pengganti nasi. Ini berarti masyarakat telah mengenal makanan yang mengenyangkan (sumber karbohidrat), memilih singkong sebagai makanan pokok karena mudah didapat di pasar.

Sebenarnya saat itu sumber karbohidrat jenisnya sangat banyak, seperti talas, ganyong, dan ubi. Namun, yang populer adalah singkong yang dimasak dengan diparut (sawut) yang bentuknya mirip nasi. Ditinjau dari segi gizi, selain merupakan sumber kalori, singkong juga mengandung protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin B dan vitamin C.

Kandungan protein yang kecil dapat dipadukan dengan protein dari lauk-pauk sehingga dapat melengkapi kebutuhan sehari-hari. Juga dapat melengkapinya dengan sayuran dan buah.

Sekarang ini para ahli telah banyak memanfaatkan singkong menjadi industri seperti dibuat beras aruk yang berbentuk butiran menyerupai beras. Ini dapat diolah menjadi nasi aruk atau dapat dicampur dengan beras dan rasanya tetap nikmat. Selain itu, juga diolah menjadi mi cassava (singkong).

Mi singkong ini merupakan produk olahan campuran tepung singkong dan pati singkong yang dapat dibuat dalam bentuk basah maupun kering. Salah satu produk yang terkenal adalah mi bendo, produk ini dihasilkan oleh pengusaha di Desa Bendo, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.

Industri tepung cassava

Tepung cassava adalah tepung yang dibuat secara langsung dari singkong yang dikeringkan dan dijadikan tepung, tetapi bukan dibuat gaplek sehingga warnanya masih keputihan. Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi mi dan hasil masakan dari mi ini tetap nikmat. Hal ini bergantung pada bagaimana mengolah resepnya dan campuran isinya.

Karena singkong dianggap bernilai sosial rendah dalam era globalisasi, kita dapat mengangkatnya sesuai selera global. Misalnya, selera serba mentega dan telur menjadi cake atau dengan selera serba keju dibuat combro yang rasanya lebih nikmat sehingga pastinya akan diminati karena dimodifikasi dengan penambahan keju.

Ini hanyalah salah satu contoh, sebenarnya hidangan apa pun jika diramu dengan perpaduan yang lengkap gizi akan menjadi hidangan yang sehat dan nikmat. Oleh karenanya, jangan meremehkan satu jenis makanan karena jika diracik dan dipadu dengan bahan dan bumbu yang tepat, akan menjadi hidangan yang nikmat, malahan bergizi dan sehat.

Gulai Cumi Isi Daun Ketela
Bahan :
o  gram cumi-cumi -
o  3 ikat daun singkong muda, rebus, dipotong-potong -
o  2 cm lengkuas, dimemrakan -
o  2 lembar daun salam -
o  1 lembar daun kunyit, dibuat simpul -
o  1 batang serai, diambil putihnya, dimemarkan -
o  3 lembar daun jeruk, dibuang tlang daunnya -
o  1 buah pekak -
o  2 butir kapulaga -
o  1/8 sdy jintan -
o  2 sdt garam -
o  1/2 sdm gula pasir -
o  ml santan dari 1/2 butir kelapa -
o  2 sdm minyak untuk menumis -
o  2 sdm bawang goreng untuk taburan -
Bumbu halus :
·      4 buah cabai merah besar, dibuang biji -
·      2 buah cabai merah keriting -
·      5 butir bawang merah -
·      3 siung bawang putih -
·      2 cm kunyit, dibakar -
·      1 cm jahe -

Cara membuat :
1. Masukkan daun singkong ke dalam cumi. Sematkan lidi. Sisihkan.
2. Panaskan minyak, tumis bumbu halus, lengkuas, daun salam, daun kunyit, serai, daun jeruk, pekak, kapulaga dan junten sampai harum.
3. Tambahkan garam dan gula pasir. Aduk rata. Tuang santan. Aduk rata. Masak sambil diaduk sampai mendidih.
4. Masukkan cumi. Masak di atas api sedang sampai matang. Aduk rata. Masak sampai matang. Angkat.
5. Sajikan setelah ditabur bawang goreng.



manfaat pegagan dan manfaat Singkong
manfaat pegagan. Tanaman ini bernama latin Centella asiatica (L.), Urban atau Hydrocotyle aiatica (L.) yang sangat ampuh untuk mengobati lepra ini, dikenal juga berkhasiat untuk revitalisasi sel tubuh dan kesuburan wanita. Seluruh bagian tanaman bisa digunakan. Caranya dengan ditumbuk lalu diperas dan diminum sarinya atau direbus. Nama daerahnya, antara lain rumout kaki kuda, antanan gede, panegowang atau kisu-kisu. Sedang diluar negeri tanaman ini sering disebut sebagai gotukola. Maka dari itu mari kita terapkan hidup sehat dengan herbal, yang tanpa resiko walaupun memerlukan waktu yang lama.

manfaat singkong


manfaat singkong. Manihot esculenta Crantz

Nama lokal : Ubi kayu, singkong,  ketela pohon,
                   pohong, sampeu.

Deskripsi tanaman :  Tanaman singkong ini mula kali dikenal di Amerika Selatan.Tanaman singkong termasuk jenis tanaman perdu. Tanaman singkong ini bisa dipanen setelah 6 -7 bulan dari masa penanaman. Tanaman singkong ini bisa tumbuh dimanapun tempat, kecuali ditempat yang becek dan terendam air. Singkong merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi tanah serta tidak memerlukan perawatan khusus.

Ciri-ciri tanaman herbal singkong :
Daun : Daun berbentuk seperti jari, memiliki lembaran-lembaran yang menjuntai mirip jari manusia, dengan lebar 2-4 cm dan panjang 7 – 12 cm.
Umbi : Memiliki garis tengah 2-3 cm, dengan panjang 50 – 80 cm. Berwarna kekuning-kuningan ataupun juga ada yang berwarna putih.

Kandungan zat yang terdapat dalam tanaman singkong :
Tanaman herbal singkong ini merupakan tanaman yang memilki kandungan gizi yang cukup lengkap. Sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan aneka makanan,  dan juga dalam penggunaannya untuk pegobatan. Adapun kandungan zat dalam tanaman singkong adalah : Karbohidrat, Phosphor, Kalsium, Vitamin C, Protein, Zat Besi, Lemak, Vitamin B1.
Manfaat dan kegunaan tanaman singkong :
Daun singkong dapat gunakan sebagai obat penambah darah karena memiliki kandungan zat besi yang tinggi.
Daun singkong dapat digunakan untuk mengompres pada luka bakar karena dapat mempecepat proses pendinginan.
Umbi singkong juga dapat dipakai sebagai obat panas dalam dengqan cara diparut terlebih dahulu dan diambil air perasannya. Air perasan umbi singkong terbukti mengandung getah dan tepung maka bisa dipakai untuk obat maag dan panas dalam.
Air perasan umbi dapat mengobati luka pada lambung, karena fungsinya sebagai antibiotik. Sedangkan pada penderita panas dalam air perasan umbi singkong tersebut dapat mendinginkan daerah pencernaan.
Umbi singkong sebagai bahan dasar pembuatan tepung tapioka/kanji.
Sebagai bahan dasar pembuatan aneka olahan makanan.
Daun singkong banyak dimanfaatkan oleh para penduduk untuk sayura

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hey, I just downloaded WhatsApp Messenger on my Android. It is a smartphone messenger which replaces SMS. This app even lets me send pictures, video and other multimedia! WhatsApp Messenger is available for Android, iPhone, Nokia, Windows Phone and BlackBerry and there is no PIN or username to remember - it works just like SMS and uses your internet data plan. Get it now from http://www.whatsapp.com/download/ and say good-bye to SMS!

Rabu, 06 Juni 2012

UPACARA TINGKEBAN



Upacara tingkeban ana ing masyarakat Jawa Tengah lan Ngayogyakarta nganti tumeka saiki isih kereb ditindakake. Upacara tingkeban iki minangka upacara slametan pitung sasi kanggo calon ibu kang mbobot kaping pisanan. Upacara tingkeban dianakake mesthi wae nduweni ancas kang kepengin digayuh dening kulawarga, mligine ancas supaya bayi lair kanthi gampang, slamet lan ora ana alangan apa-apa. Kajaba iku muga-muga mbesuke bisa dadi anak kang bekti marang wong tuwane. Ing kene uga arep diandharake tata cara upacara tingkeban kalebu nyamping kang dienggo calon ibu.
Upacara tingkeban kawiwitan mawa sungkeman. Ing acara sungkeman, calon ibu lan calon bapak luwih dhisik sumungkem ing ngarsane Rama lan ibune. Sungkeman iki nduweni teges muga–muga ing tembe jabang bayi kang dilairake bisa dadi bocah kang bekti marang wong tuwane. Sabanjure upacara siraman, Ana ing upacara siraman, calon ibu disiram dening wong pitu, kayata: bapak saha ibu saka calon ibu, bapak saha ibu saka calon bapak, simbah, sedulur utawa tangga teparo kang bisa dadi tuladha becik. Sawise siraman banjur sesuci (wudhu). Banyu kang diwadhahi ing kendhi kanggo sesuci mau banjur dipecah dening ibu saka calon ibu kanthi ngendika: “ ora mecah kendhi, nanging mecah pamore jabang bayi.”
Ing upacara tingkeban, calon ibu ganti nyamping kaping pitu, kang urut-urutane: nyamping sidaluhur, sidamukti, truntum, wahyu tumurun, udan riris, parang kusuma lan nyamping semen romo. Sabanjure ganti nyamping ana adicara nigas janur kuning.  Calon bapak nigas janur kuning kang diubetake ing bangkekane calon ibu. Sawise nigas janur kuning, calon bapak banjur mlayu banter, iki nduweni ancas muga-muga jabang bayi bisa lair kanthi lancar lan cepet. Banjur acara brojolan. Brojolan ing kene ana werna loro yaiku brojola tigan (kanthi pangajab muga-muga bayi bisa kalairake kanthi gampang ora ana sukerta kang ngalang-alangi). Brojolan kaping pindho yaiku brojolan cengkir kang digambari Kamajaya lan Kamaratih utawa Arjuna lan Subadra kang minangka pralambang laire jabang bayi. Mangkono mau urut-urutan ing upacara tingkeban. Ananging, amarga desa mawa cara negara mawa tata, mula ora mokal manawa saben dhaerah beda tata carane nindakake. Kabeh mau minangka simbol kanggo nggayuh kabecikan.
(Kabesut  saking: Sempulur No. 07/ 11/ 2003/ Heni TH)
saking : http://www.sastrajawa.com/upacara-tingkeban/#more-261

MANTU (Upacara Sadurunge, Tempuking Gawe, lan Sauwise)

Tembung mantu, manten, panganten, sri pangantyan, iku kerep keprungu. Nanging apa ta tegese? Kabeh mau padha apa ana bedane? Kaperluan utawa duwe gawe  diarani mantu, jalaran nikahake (mala kramakake, ndhaupake,  miwaha, njodhokake, ngijabake) anak kang mujudake kuwajibane wong tuwa (darmaning asepuh) sing wis suwe diantu-antu, diarep-arep, direrancang,  digegadhang, digantha-gantha. Ngono mau yen olehe mantu ora dadakan utawa kesusu merga “tabrakan”. Merga wis dirancang setaun utawa setengah taunan sadurunge, mula gethakaning dina lan tanggal sarta jam pisan wis dieling-eling, satemah diantu-antu tekane. Wonge sing duwe gawe iku dadi mantu (wong mantu). Ningkah mujudake lelakon kang sakral lan suci ing sajroning bebrayan sawijining wong. Mula saka iku kalakone ana sawetara tataran. Tataran-tataran sajroning upacara ningkah ana telung warna. Sepisan upacara sadurunge mantu, kapindho upacara tempuking gawe, lank aping telu upacara sauwise tempuking gawe.

A. Upacara Sadurunge Mantu
Lumrahe saiki upacara sing tumindak ing masyarakat mung nalika tempuking gawe, iku wae ora komplit. Mangka miturut tata cara kuna, upacara ing sadurunge mantu iku uga ana, malah akeh, kayata:
1. Nyalari
Carane wong tuwane bocah lanang kongkonan marang wong sing pinitaya sing uga wis tepung karo wong tuwane prawan sing arep disalari. Mula tugas nyalari mau uga kasebut dom sumuruping banyu (laku samar).
2.Nontoni
Menawa nyalari mau ditampa becik ateges si prawan isih sela lan wong tuwane sarujuk, wong tuwane bocah lanang banjur medhayoh menyang omahe si prawan, saperlu weruh kaya apa lan sepira ta bocah kuwi. Yen bocahe lanang bisa diajak bisa uga ora diajak. Nalika sing tuwa padha jagongan, si prawan didhawuhi ngladekake suguhan, ing kono tamu maspadakake (nontoni) bocah iku kanggo tetimbangan jodho apa ora. Yen perlu diajak omong-omong.
3. Nglamar
Yen asile nontoni ketemu becik, wong tuwane bocah lanang  dhewe utawa kongkonan utusan wong loro utawa telu medhayoh ing omahe wong tuwane bocah wadon mau saperlu resmi nglamar. Tembunge ‘ngebun-ebun enjang anjejawah sonten’ (wangsalane: bun esuk= awun–awun; udan sore = rarabi batangane = nyuwun rabi). Anggone waleh tamu mau cablaka: “ Yen wonten keparengipun Bapak-Ibu X, putra-putri panjenengan ingkang sesulih gendhuk Y badhe kula suwun, kula jodhokaken kaliyan anak kula jaler pun Z.” Wangsulane  wong tuwane bocah wadon: “ Matur nuwun, dene panjenengan ngayunaken anak kula estri. Sanes dinten mangke badhe wonten utusan sowan mrika atur wangsulan.”
4. Wangsulan
Wong tuwane bocah wadon kirim utusan medhayoh menyang wong tuwane jejaka sing nglamar mau, aweh wangsulan panglamare ditampa apa ora. Nalika nglamar tamune nggawa oleh-oleh saka ketan (lemper, wajik, jadah lan rengginan) kanthi pangajab sesambungan dadi raket ora buyar. Yen utusan sing aweh wangsulan iki oleh-olehe uga saka ketan, iku pralambang wangsulane ditampa.
5. Pasok Tukon lan Pepacangan
Sarehne lamaran wis ditampa, upacara candhake ana rombongan utusane wong tuwane bocah lanang medhayoh pasok tukon, awujud dhuwit (lumrahe yen akeh disebutake, yen mung sethithik ora dikandhakake, utawa manut dhawuhe sing utusan), sandhangan sapengadeg kanggo si prawan, lan oleh-oleh. Ing kalodhangan iki si Y dipacangake karo si Z, mula ing jaman saiki lumrah sinartan upacara liron kalpika (tukar cincin).
6. Pasrah calon Manten/ Nyantri
Nyantri mujudake tradhisi kang ditindakake dening calon manten kakung. Manut tradhisi sadurunge upacara ijab ditindakake, calon manten lanang kudu dipasrahake marang wong tuwane calon manten wadon. Sawise ditampa banjur dititipake ing omahe salah sawijining sedulur utawa tanggane calon manten wadon supaya bisa nindakake upacara sabanjure.
7. Pasang Tarub
Ing omahe CPW, kira-kira 3 dina ngarepake tempuking gawe, dipasangi tratag lan tarub. Wujude tarub yen biyen kudu nganggo bleketepe yaiku suwir-suwiran janur kuning, ing kiwa tengening korining tarub dipasangi tundhunan pisang raja, tebu wulung, gegodhongan mancawarna, lan godhong apa-apa, lan ora lali cengkir gadhing lan godhonng waringin. Kabeh mau bisa diwaca dadi ukara bilih blakane nyuwun sumawuring nur Illahi kanthi pangajab penganten bisa kaya dene raja lan prameswarining nata kang nduweni antebing kalbu lan kencenging piker, anane rubeda mancawarna tetep ora kurang sawiji apa, dene sing padha jagong sing keri (durung mantu utawa during dadi manten) padha kepengin.
8. Siraman
Ing tarub iku ana perangan sing disedhiyakake kanggo papan siraman CPW. Siraman lumrahe katindakake wayah sore bakda kendhuri tarub. Dene siraman kanggo CPL uga bareng wektune, nanging papane pisah, yaiku ing pondhokane CPL. Sadurunge upacara siraman, calon manten sungkem marang bapa biyunge.
B. Upacara Tempuking Gawe
1. Sajen warna-warna
Sanajan saiki wis akeh sing ora nindakake, amarga ora laras karo piwulang agama lan nalar ilmiah, perlu kawuningan bilih miturut cara kuna, wong Jawa sing duwe gawe mantu wajib gawe sajen utawa pasang sesaji warna-warna. Sing baku bakda pasang tarub, ing ndhuwur tarub disajeni pisang raja setangkep (pisang sanggan tarub), iki kena dilorot bareng karo pambungkare tarub. Gunane sejatine kanggo buwahe sing mbubrah tarub. Dene sesajen sing akeh dhewe: brekatan lan ambengan kendhuri tarub, ndongakake siraman manten supayane mantene sesuk rancag, slamet, lan ora kurang sawiji  apa. Sajen  tumpeng robyong uga dipasang ing pedharingan (senthong tengah), sajen kanggo  kembar mayang, sajen tumpeng mancawarna cilik-cilik kanggo buwangan mubeng desa (dalan mlebu desa, kreteg, buk, prapatan, pratelon, lsp.) werdine iku publikasi menawa duwe gawe mantu. Mula saiki ana sing duwe panemu, lha wong wis nyebar ulem, rak publikasi sajen buwangan kuwi ora perlu, awit mboborosi. Yen pancen mantep ngono, sumangga.
2. Nebus Kembar Mayang
Kembar mayang utawa Kalpataru sepasang kang aran Dewadaru lan Janadaru minangka srana (sajen tuwuhan) kanggo dhauping panganten. Saiki sing gawe lumrahe Pak Kaum (utawa sapa sing didhawuhi Pak Kaum). Sawise kembar mayang dadi ana upacara nebus kembar mayang. Dene reracikaning upacara mangkene:  Sing duwe gawe mintasraya marang piyayi sepuh  sing ing upacara iki dijenengi Ki Wasitajati, supaya ngupaya sekar mancawarna (kembar mayang) minangka srana dhauping putra. Ki Wasitajati nuli mangkat. Tekan nggone sing gawe kembar mayang (ya ing papan saomah kono wae) sing ing upacara iki aran Ki Kumarajati, Ki wasitajati takon ngendi ana kembang mancawarna kanggo srana dhauping penganten? Ki Kumarajati mangsuli yen dheweke duwe, nanging kudu nganggo tebusan. Sawise utusan ngulungake tebusane, kembar mayang diulungake lan kaboyong dening pandhereke Ki Wasitajati (yen Ngayogya ibu-ibu sepuh, yen ing Sala putrid-putri enom) dipapanake ing ngarep pedharingan (senthong tengah). Jaman saiki kembar mayang nuli dipasang ing pedharingan dening sing gawe dhewe (tanpa ana upacara nebus).
3. Midadareni
Bengi ngarepake tempuking gawe (malem ijab) nganti tengah wengi diarani malem midadareni utawa widadaren, awit dipercaya minangka wektu temuruning widadari. Tegese (a) manten wadon dicicil dipaesi (dikerik, dilulur, rambut diratus, lsp.) supaya dadi ayu kaya widadari tumurun lan (b) ana widadari tumurun tenan (juru paese) kang ndadani manten (nganti sesuke ayu mangling kaya widadari tenan). Upacara iki dipirid saka crita Jaka Tarub, sing nalika maesi Nawangsih anake, ngundang widadari Nawangwulan bojone, supaya maesi anake wadon iku, dadi memper widadari. Wujude upacara midadareni para sepuh padha tirakatan lan juru paes nyicil maesi kaya kasebut ing ndhuwur. Kanggo cagak lek bisa dianani macapatan lan sarasehan. Dipungkasi tengah wengi ana upacara Majemukan, yaiku ngrencak sajen kanggo dhahar bengi tumrap sing padha tirakatan iku. Kuwi  mau cara biyen. Dene saiki, midadareni ya mung ketemu sakulawarga, sore (jam wolunan) udakara sakjam banjur dhahar lan bubar, merga olehe maesi manten sesuk-esuk wae. Ateges kaya ora ana midadareni, mundhak marahi sayah lan ngantuk.  Cathetan: “yen biyen, sadurunge midadareni iki, yen manten nglangkahi kakang utawa mbakyune, diarani upacara plangkahan. Yen saiki, sing baku tembunge (pratelane) bilih kakang utawa mbakyu mau nglilani kanthi ekhlas adhine ndhisiki dadi manten.
4. Ijab utawa Akad Nikah,
Sejatine Ijab iki sing paling pokok, awit ya upacara iki sing ngabsahake jejodhoan miturut ukum agama lan negara saengga lanang wadon duwe layang nikah sah. Upacara bisa ditindakake ing KUA (Kantor Urusan Agama) uga bisa ditindakake ing ngomah, kang banjur disambung karo upacara adat sing baku dhewe, yaiku panggihing temanten.
5. Panggih (Temuning Penganten)
Sing baku manten lanang teka ing ngarep tarub, manten wadon methukake. Kembar mayang sing diboyong saka njero (ngetutake manten wadon) disamplukake manten lanang, banjur dibuwang ing prapatan utawa pratelon sing cedhak. Banjur ana rerangkening upacara panggih yaiku:
a. Balang-balangan gantal / sadak
Suruh isi gambir lan injet dilinting ditaleni benang lawe putih kanggo baling-balangan manten lanang lan wadon. Cacahe gantal ana 7, sing 4 dicekel sing wadon (gondhang kasih), sing lanang kebagean 3 (gondhang tutur), banjur kanggo balang-balangan mbaka siji. Werdine: baling-balang katresnan. Suruh lumah lan kurepe beda, nanging rasane padha, dadi lanang lan wadon iku beda nanging padha tresnane.
b. Mecah Antiga
Antiga utawa endhog pitik kampung sing isih mentah, dening ibu juru paes disenggolake bathuke manten lanang lan manten wadon, banjur dibanting nganti pecah. Werdine: pecahing wiji priya lan wanita kang bakal mbabarake turun.
c. Mijiki Sikil
Manten wadon mijiki manten lanang nganggo banyu setaman sing diwadhahi bokor utawa pengaron cilik. Werdine: wong wadon setya bekti marang sing lanang.
d. Kanthen Asta
Yen ana wong loro napak pasangan (rakitan sapi utawa kebo) banjur lagi kanthen asta(gandhengan) nganggo jenthik tangan kiwa (lanang) lan jenthik tangan tengenn (wadon) nuli bebarengan mlaku tumuju ing dhamparing penganten. Werdine:  wis resmi dadi pasangane lan banjur bebarengan nyanggemi kewajiban
e. Tampa Kaya (Kacar-kucur)
Tekan dhamparing panganten, manten lanang ngesok kaya ing kacu gedhe neng pangkone manten wadon. Werdine; wong lanang wajib aweh kaskaya (rejeki) marang sing wadon kanggo kabutuhane bale wisma.
f. Dhahar Walimahan
Sing lanang ngepel sega isi lawuh telung kepelan, mbaka siji diwenehake sing wadon ditampani ing piring, banjur dipangan (telu pisan sethithik-sethithik) disawang sing lanang. Werdine: ngecakake kaskaya kanggo karaharjaning kulawarga.
g. Sungkeman
Manten lanang lan wadon urut-urutan sungkem marang bapa biyunge lan maratuwane. Werdine: wajib bekti marang wong tuwa  lan mara tuwa.

C. Sauwise Tempuking Gawe
Yen saiki wong tuwane manten lanang arep ngundhuh sepasaran apa ora, kari manasuka, marga wigatining sedya mantu wis rampung. Nanging yen biyen bakda tempuking gawe (ijab lan panggih) iku isih ana upacara sawetara yaiku:
1. Sapasaran
Kanthi kenduri ing papane manten wadon. Sadurunge iku mbubrah tarub lan jenang sungsuman lan ora ana upacara, ya mung ditindakake ngono wae.
2. Ngundhuh Sepasaran lan Boyong Manten
Wong tuwane manten lanang isih nganakake pahargyan, upamane nganggo wayangan, kethoprak, lsp. (sajen-sajene uga pepak meh kaya mantu  wadon). Ing kene  ana upacara pasrah manten saka pihak wadon marang pihak lanang, isih nganggo oleh-oleh, rombongan utusan, boyongan manten, lsp.
3. Selapanan
Dianani slametan utawa kendhuri ing papane wong tuwane manten lanang utawa uga ing papane besan (sanajan mantene wis diboyong adoh).
(Kabesut saking: Sempulur No.01/  I /2002  kaserat dening: Emi Suharmini)
saking : http://www.sastrajawa.com/mantu-upacara-sadurunge-tempuking-gawe-lan-sauwise/#more-257

MANEKA WARNA UPACARA MLIGI KANGGO MIMBUHI KAWRUH BAB UPACARA NINGKAH CARA JAWA

Ing bab ningkah cara Jawa, ana sawetara pakulinan mligi kang katindakake, gayut karo kang diningkahake. Dheweke iku statuse ana ing kulawarga kepriye. Upamane: randha apa dhudha, anak barep apa wuragil, nglangkahi, lan liya-liyane. Upacara mligi kang sok-sok ditindakake upamane:
Upacara Bubak Kawak
Upacara bubak kawak iki katindakake nalika ijabe anak barep. Upacara panggih tetep dianani. Mung wae ing kene bapakne manten putri ngombe rujak degan. Sawise ibune manten putri menehi rujak marang bojone lan banjur diombe, tumuli nakoni: “Apa rujake kurang enak?” Diwangsuli: “ Rasane enak lan seger!” Rujak mau banjur diwenehake marang kang wadon maneh, supaya melu ngicipi. Sawuse ngrasakake nuli kandha: “ Pancen nyata rujak degan iki enak lan seger”. Sabanjure rujak mau diwenehake marang manten sakloron supaya padha ngicipi.
Upacara Tigas
Upacara tigas iki mung mligi ditindakake ana ing akad nikah antarane jaka lan prawan lan tetep nganggo upacara Panggih.
Upacara Langkahan
Upacara langkahan iki katindakake  manawa calon manten putri anggone ningkah luwih dhisik katimbang kakangne kang durung ningkah. Sadurunge akad nikah, calon manten putri kudu jaluk idin marang kakangne kang dilangkahi. Tumindake bab iki lumrahe diwiwiti sadurunge midadareni. Jalaran upacara iki asipat mirunggan, mula lumrahe mung sineksenan dening kulawarga. Biyen upacara iki ditindakake ing sangareping senthong utawa kamar tengah, nanging samengko iki katindakake ing kamar manten.
Sadurunge upacara langkah katindakake, kakangne utawa bakyune siyaga nganggo dandanan jawa lan lungguh sila utawa timpuh ing papan kang wis dicawisake. Dene urut-urutane tumindak mangkene:
1. Calon manten ngadhep kakang utawa mbakyune kanthi lungguh timpuh lan nuli nyembah sinambi kandha utawa ngomong: “Kangmas utawa mBakyu, kula nyuwun idin badhe ngrumiyini lumampah, saha nyuwun pangestu, mugi-mugi lampah kula kekalih  samangke dumugi papan kang kula sedya lan manggih seneng, tinebihna ing rubeda sambekala, Amin.”
2. Sawise ngucap mangkono mau, nuli calon manten sungkem karo ngambung dhengkule tengen dikantheni niat utawa sedya kang tandhes temenan. Kangmase utawa bakyune nampa sarana numpangake tangane ana ing pundhake kiwa tengen adhine sarana numpangake tangane ana ing pundhake kiwa tengen adhine sinambi mangsuli: “ Dak paring idin lan palilah lumakua dhisik, slamet ora kurang sawiji apa, tekan papan kang kok tuju. Muga-muga Gusti Kang Maha Agung tansah maringi seneng ing sapandhuwure lan aku enggal nututi. Amin.” Nuli calon manten lungguh maneh ing papan sekawit banjur masrahake sanggan kang wujud: pisang raja, kembang telon lan benang lawe sarta tali asih utawa tandha mata, bisa wujud apa wae.
Upacara Tumplak Punjen
Upacara tumplak punjen lumrahe ditindakake nalika wektu ijab kanggo anak wuragil. Sarat-sarat kudu dicukupi ing upacara tumplak punjen iki yaiku gawe kanthongan-kanthongan cilik kang nuli diiseni: dhuwit receh utawa logam, empon-empon, beras kuning, lan kembang sritaman. Ngenani akehe dijumbuhake karo kekuwatane. Kabeh kanthongan cilik-cilik mau dicemplungake bokor kang uga isine padha karo kanthongan cilik-cilik mau. Sabanjure kanthongan-kanthongan cilik mau didum-edumake dening ibune manten maranng anak-anake kabeh, wiwit saka kang barep tekan wuragil kang bakal dadi manten. Turahane diwenehake marang para tamu. Sabanjure wiji-wiji kang ana ing bokor siyaga kasebar kanggo putu-putune kareben ora ana kang keri. Upacara tumplak punjen iki ditndakakake sadurunge upacara sungkeman. Persise sawise upacara kacar-kucur utawa tampa kaya lan sadurunge wong tuwane manten kakung dipethuk.
Upacara Macul Tumpeng
Upacara macul tumpeng iki katindakake wektu ijab antarane sedulur misan utawa nunggal embah buyut lan manut sarasilah manten wadon luwih tuwa katimbang manten kakung.Tumindake kudu di dhisiki nganggo sarat manten kakung macul tumpeng, sabanjure kanthi ngadeg nrajang benang lawe. Upacara iki ditindakake sadurunge upacara panggih.
Suwalike menawa manut salasilah, manten kakung luwih tuwa katimbang manten putri, mula manten kakung ora kudu macul tumpeng, ananging cukup srana nrajang bolah lawe wae. Sawise iku ditindakake upacara panggih.
Upacara Nyiram Bugel
Nalika sajroning nindakake akad nikah mantene wadon wis randha, nanging durung duwe anak ( randha kembang) sarat kang kudu dilakoni yaiku manten kakung nyiram bugel, yaiku kayu kang wis diobong kanggo olah-olah lan isih mengangah ( ana genine). Upacara iki katindakake ing sangarepe lawang, sadurunge upacara panggih. Suwalike Manawa kang nindakake ijab antarane prawan karo dhudha durung anak-anak, kang nindakake nyiram bugel manten putri, uga ana ngarep lawang sadurunge upacara panggih.
Prasetyono, Dwi Sunar. 2003. Tata Cara Paes lan Pranatacara Gagrag Ngayogyakarta. Yogyakarta: Absolut
saking : http://www.sastrajawa.com/maneka-warna-upacara-mligi-kanggo-mimbuhi-kawruh-bab-upacara-ningkah-cara-jawa/#more-259

Senin, 04 Juni 2012

MEMBACA BUKU MENGUBAH TAKDIR

Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan gagal, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia tetap masih hanya menjalani hidup kodrati menerima takdirnya. Menjalani hidup kodrati ialah usaha mencapai segala kemakmuran hidup hanya dengan mengandalkan kepekaan indrawi (pancaindra) terutama melihat dan mendengar. Meminjam istilah Prof. DR Ayu Sutarto, MA, masyarakat Indonesia terkungkung oleh tradisi kelisanan atau orality (Mulut Bersambut, 2009). Masyarakat Indonesia masa kini terkungkung oleh tradisi kelisanan, jadi sama dengan hidupnya kakek-buyut saya yang petani di desa. Bisa menanam padi yang subur karena melihat dan mendengar tetangganya yang juga berhasil dan tidak berhasil menanami padinya di sawahnya. Dengan kata lain hidupnya primitif. Orang atau bangsa yang hidupnya primitif seperti kakek-buyut saya itu bodoh, miskin, terjajah karena sulit diajak menata kehidupan manusia (kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan) masa depan yang ideal pada zaman itu. Apa lagi orang primitif pada zaman teknologi modern seperti sekarang ini.

Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan berhasil sukses, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia bisa diberdayakan hidup sasterawi. Meminjam istilah Prof. DR. Ayu Sutarto, MA, “tantangan masyarakat Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari masyarakat yang terkungkung oleh tradisi kelisanan menjadi masyarakat yang bertradisi keberaksaraan (literacy). Masyarakat bertradisi keberaksaraan (istilah saya sasterawi) adalah masyarakat yang mau membaca buku dan berpikir, kritis bukan hanya terhadap kebohongan, kekeliruan atau kemunafikan masyarakat lain, melainkan juga kepada dirinya sendiri”. Artinya cerdas dan jujur.

Saya meramal begitu bukan saja karena tantangan Ayu Sutarto, tetapi karena mengalami kemajuan diri sendiri, serta mengamati kemajuan bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain. Sehabis membaca setiap buku, pengetahuan saya bertambah, lalu berpikir untuk menggunakan pengetahuan baru tadi untuk meraih masa depan yang lebih baik, bersemangat dan berharap mengubah hidup masa lalu kian tebal. Itu yang saya sebut “mengubah takdir”.

Hidup sasterawi yang saya maksud adalah putera bangsa selain kiat hidupnya mengandalkan kepekaan indrawinya, juga berbudaya membaca buku dan menulis buku sebagai kiat hidupnya. Membaca buku dan menulis buku bukan kodrat. Jadi untuk berbudaya membaca buku dan menulis buku putera bangsa harus dilatih, diajar, dibiasakan membaca buku dan menulis buku. DR. Taufik Ismail tahun 1996 pernah meneliti di beberapa negara mengatakan bahwa para lulusan SMA di Jerman rata-rata telah membaca 32 judul buku, anak Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Kalau penelitian Taufik Ismail hingga sekarang masih berlangsung (pelajar SMA lulus UNAS membaca 0 buku), maka ramalan saya Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur mengalami kegagalan jelas sudah terbayang.

Bagaimana sehingga pelajar SMA lulus UNAS tidak membaca sejudul buku pun? Pasti mereka tidak hidup sasterawi. Karena pola pendidikan nasional Indonesia tidak memberi kesempatan untuk membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku. Sejak Kurikulum 1975, pelajaran Sastera Indonesia disatukan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk mempelajari Bahasa Indonesia sulit dan banyak menyita jam pelajaran (nyatanya di-UNAS-kan banyak yang gagal di mata pelajaran ini, dan orang Indonesia sampai sekarang tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar), sehingga pelajaran membaca-baca sastera Indonesia tidak peroleh jam pelajaran. Contoh bahwa orang dewasa (kuasa) Indonesia tidak berbudaya membaca dan menulis bisa dilihat di tempat-tempat umum ada tulisan: DI JUAL MOTOR. Atau tulisan dengan ejaan yang salah ANTAR KOTA ANTAR PROPINSI beredar ke mana-mana, menandakan bahwa bangsa Indonesia memang tidak berbudaya membaca (buku) dan menulis (buku).

Selain itu, pola pengajaran sekolah Indonesia akhir-akhir ini lebih mengutamakan mengajarkan muatan ilmu. Dari SD diajarkan ilmu banyak-banyak (agar cerdas?) dengan pamrih agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Di SMP juga diajarkan ilmu banyak-banyak, agar bisa melanjutkan sekolah di SMA. Di SMA pelajar juga dibebani ilmu banyak-banyak agar nanti bisa lulus menempuh UNAS. Tiap jenjang sekolah (SD, SMP. SMA) muridnya, gurunya, sekolahnya berusaha keras untuk lulus bisa melanjutkan sekolah. Kalau tidak, muridnya malu, gurunya malu, sekolahnya malu. Dan para putera bangsa itu tidak hidup sasterawi, tidak berbudaya hidup keberaksaraan, maka akan sulit diajak menata kehidupan yang ideal, tidak berpikir kritis terhadap kebohongan, kekeliruan dan kemunafikan masyarakat lain, apalagi terhadap (kebohongan) dirinya sendiri. Dari sini kegagalan “jujur” sudah kentara. Dan banyaknya muatan ilmu selama sekolah 12 tahun yang di-UAS/UNAS-kan apakah membuat putera bangsa “cerdas”?

Saya mengalami sekolah pendidikan dasar (SD) zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Perjuangan (1938-1949). Kelas I sampai kelas IV (zaman Belanda) tiap hari diajar membaca buku cerita (sastera). Tidak ada hari sekolah tanpa membaca buku. Di kelas III, jam pelajaran 6 kali sehari, kecuali hari Jumat (3X). Buku yang dibaca tiap hari tanpa lowong: (1) Tataran (cerita kehidupan Koentjoeng Karo Bawoek, bahasa Jawa huruf ABC), (2) Ngréwangi Apa Ngrusuhi (cerita kehidupan anak bajing bernama Perkis, dan nyamuk bernama Gothang, bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (3) Kembang Setaman (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (4) Ontjen-ontjen (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf ABC), (5) Matahari Terbit (bahasa Melayu huruf ABC). Lima macam buku bacaan itu tiap hari harus dibaca bersama, sehingga hampir seluruh jam pelajaran di SD adalah MEMBACA BUKU. Pelajaran lain: berhitung (3X seminggu), olahraga (2X), menggambar, mendongeng, menyanyi masing-masing satu kali seminggu. Di kelas IV masuk halaman sekolah harus bertutur bahasa Belanda, dan tiap hari juga membaca buku cerita bahasa Belanda. Di kelas IV Jepang datang, Belanda pergi. Tiap hari diajari MEMBACA DAN MENULIS huruf dan bahasa Jepang 7 jam pelajaran seminggu. Padahal masuk sekolah seminggu hanya 5 hari, hari Sabtu hari krida tidak ada jam pelajaran. Jadi ada jam-jam pelajaran bahasa Nippon sehari 2X. Tiap hari membaca: “Gakkő wa haci ji han ni hajimarimasu”, “Otõto-san to imőto-san wa mada gakkő wo sotsugyő shimasen ka?” (ditulis dengan huruf Katakana dan Kanji). Tiap hari masuk kelas, cerita-cerita seperti itu harus dibaca dan ditulis. Pada zaman Jepang buku bacaan bahasa Jepang belum banyak beredar, sehingga pelajaran membaca cerita begitu ditulis oleh guru di papan tulis, dan untuk menghafal di rumah murid-murid harus mencatatnya di buku catatan masing-masing. Huruf Kanji satu kata satu gambar. Kalau ada 2000 kata bahasa Jepang, tentunya ada 2000 huruf Kanjinya.

Kelas IV saya sudah diajari menghafal membaca dan menulis puluhan huruf Kanji. Andai kata sampai kelas XII, tentulah saya sudah hafal 2000 huruf Kanji, jadi saya bisa membaca buku bahasa Jepang. Jadi pelajaran utama sekolah dasar (kelas I-XII) adalah membaca-membaca-membaca cerita dan menulis. Pada zaman Belanda pelajaran sekolah terbanyak adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku berbagai bahasa dan huruf, pada zaman Jepang pelajaran sekolah terbanyak juga membaca-membaca-membaca huruf Kanji, sehingga nantinya lulus sekolah 12 tahun sudah hafal 2000 huruf Kanji. Bisa membaca buku-buku bahasa Jepang.

Dari riset Taufik Ismail bahwa lulus SMA anak Indonesia rata-rata membaca nol buku, berarti selama bersekolah awal usia 12 tahun putera Indonesia tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kalau sistem pendidikan nasional Indonesia diterapkan di Jepang, maka 12 tahun kemudian bangsa Jepang lulus SMA bakal membaca nol buku juga. Bodohnya bakal sama dengan orang Indonesia menurut risetnya Taufik Ismail. Sebab semua buku dan suratkabar Jepang ditulis dalam huruf Kanji. Banyaknya huruf Kanji sama dengan banyaknya kata-kata Jepang, 2000 bahkan mungkin 8000 kata. Kalau di sekolah 12 tahun tidak dicicil diajari membaca buku (huruf Kanji), mana mungkin setelah jadi mahasiswa tiba-tiba hafal 8000 huruf Kanji?

Dari sini bisa diamati, pelajaran utama bersekolah 12 tahun awal umur anak manusia, baik zaman Belanda maupun zaman Jepang, zaman dulu maupun zaman sekarang, adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku. Bersekolah 12 tahun gunanya agar anak manusia berbudaya membaca buku dan menulis buku, alias hidup sasterawi. Membaca buku dan menulis buku merupakan gerbong angkutan ilmu (kruiwagen), sedang pelajaran ilmu lain seperti berhitung, menggambar, matematika, bahasa (Indonesia, Belanda, Jepang, Inggris) merupakan muatan. Zaman Belanda dibudayakan membaca buku, muatannya bahasa Belanda, di zaman Jepang dibudayakan membaca huruf Kanji, muatannya diganti bahasa Jepang. Kapan pun dan di negara mana pun, bersekolah awal 12 tahun itu gunanya putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kecuali di Indonesia. Di Indonesia sekolah 12 tahun yang perlu dimuati ilmu banyak-banyak. Diajari ilmu matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, ilmu koperasi, nanti diuji dengan UNAS. Membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan, berarti gerbong wadah ilmunya tidak ada.

Membaca buku dan menulis buku seperti gerbong keretaapi. Berangkat dari Gubeng menuju Malang, di mana Malang sebagai orang hidup global modern. Penumpang naik dari Gubeng sampai Wonokromo (sekolah 12 tahun), yaitu pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, ilmu kejujuran, ilmu kecerdasan. Namun gerbong keretaapinya dari Wonokromo membelok menuju Mojokerto. La kapan penumpang muatannya sampai di Malang? Itu kalau ada gerbong angkutannya (membaca buku dan menulis buku). La kalau tidak ada gerbongnya (membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan di sekolah 12 tahun), ilmu muatan matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, apa harus berjalan kaki ke Malang?

Kalau Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur ingin berhasil, mumpung Menteri Pendidikan Nasionalnya juga orang Surabaya, ubahlah pola sistem pendidikan nasional Indonesia, membaca buku dan menulis buku menjadi kurikulum utama sekolah awal 12 tahun. Putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku, tiap hari tanpa jeda saban masuk kelas selama 12 tahun. Nanti ilmu kecerdasan dan ilmu kejujuran dengan sendirinya akan terangkut dalam putera bangsa membacai buku-buku dan menulis buku-buku. Membaca buku itu mengubah takdir menjadi nurani lebih bijak. Sudah terbukti sejak Plato murid Socrates (470-399 S.M.) mendirikan Akademus dan menulis buku Apology yang menceritakan pembelaan Socrates ketika dihukum mati, dan pidato-pidato ilmu filsafat Socrates dalam buku Epistles. Dan sudah terbukti bahwa bangsa Indonesia sekarang banyak yang tidak cerdas dan tidak jujur, suka menyalahkan orang lain, munafik, bertindak beringas membuat onar, mengritik orang lain hingga orang lain hancur menjadi kegairahan hidupnya para pengritik. Dale Cornegie bilang,“Semua orang bodoh bisa mengritik, mencerca dan mengeluh ~ dan hampir semua orang bodoh melakukannya”. Mengapa orang Indonesia masa kini berbuat begitu sehingga orang Surabaya memerlukan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur? Sebab meskipun telah pada lulus SMA bangsa Indonesia tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Berarti pola atau sistem pendidikan nasional Indonesia sejak awal sampai lulus SMA tidak mencerdaskan bangsa. Dan adanya UNAS memicu ketidakjujuran bangsa. Seharusnya diubah! Diubah seperti negara-negara maju yang lain, yaitu bersekolah 12 tahun awal umur putera bangsa utamanya digunakan untuk menggembleng putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku.

Jangan berkoar deklarasi saja. Mari kita buktikan di ranah pendidikan nasional kita.

Surabaya, 20 Juli 2011.

Suparto Brata

pengarang novel bahasa Jawa

Dimuat OPINI Jawa Pos, Kamis 21 Juli 2011

PS. di atas naskah aseli.